Kamis, 27 Mei 2010

Sayap Bidadari Patah



Hmm…sahabat, pernahkah kau terdiam, namun pancainderamu malah memberikan ilmu tak terduga. Kemacetan lalu lintas Bandung membuatku tak sengaja memperhatikan gelembung sabun yang asyik dipromosikan oleh abang dagang, ada atau tak ada yang memperhatikan abang dagang ini tiada henti meniupkan gelembung sabunnya. Dan jujur kuakui gelembung sabun itu tampak indah, ringan menghiasi udara, terkadang memantulkan gradasi warna dari matahari yang tak mampu kita lihat secara kasat mata. Tapi bukan promosi gelembung sabun yang ingin kubagi. Tiba-tiba saja gelembung sabun ini mengingatkanku akan sesuatu yang tak sengaja rutin kukerjakan…sesuatu itu bernama DOSA!!!

Kenapa dosa dipautkan ke gelembung sabun? Heh, coba renungkan sejenak bukankah mereka berdua memiliki karakter yang sama. Ringan, tampak indah, dan beberapa waktu kemudian akan hilang…terlupakan. Bukankah dosa seperti itu? Ringan sekali untuk dilakukan bahkan sampai diulang berkali-kali, indah bahkan lumrah untuk dilakukan karena telah terbiasa (jadi... dosa yang menjadi kebiasaan bukan lagi dosa? Entahlah sejak kapan manusia mampu menetapkan standar dosa menjadi tidak dosa, padahal kita adalah yang dihakimi bukan yang menghakimi di akhirat kelak), karena batasan dosa telah menjadi tipis, terkadang mudah sekali dosa itu dilupakan, bahkan diulang berkali-kali walaupun telah minta acc tobat di sela sujud pada Allah. Gila..!! ternyata manusia nekad sekali ya koq maen-maen tobat sama Allah. Memang sih Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang. Tapi....Ah!!! ada sesuatu yang salah. Sangat salah!!

Jadi ingat apa yang paling ditakutkan Abu Al-Hasan Az-Zayyat Rahimahullah ”Demi Allah, aku tidak peduli dengan banyaknya kemungkaran dan dosa. Yang paling aku takutkan ialah keakraban hati dengan kemungkaran dan dosa. Sebab jika sesuatu dikerjakan dengan rutin, maka jiwa menjadi akrab dengannya, dan jika jiwa telah akrab dengan sesuatu maka jiwa itu jarang tidak terpengaruh dengannya. Yang berbahaya dari sikap akrab dengan kemungkaran ialah sikap tidak peduli dengan hukuman, hingga sampai taraf tidak merasa apa yang dialami sekarang sejatinya hukuman atas dosa yang telah dikerjakan.”

Ibnu Al Jauzi Rahimahullah menuturkan, ”Ketahuilah, ujian paling besar ialah merasa aman tidak akan mendapatkan siksa setelah mengerjakan dosa. Bisa jadi, hukuman datang belakangan. Hukuman paling berat ialah tidak merasakan hukuman itu, lalu hukuman merenggut agama, memberangus hati, dan jiwa tidak punya kemampuan memilih dengan baik. Diantara efek hukuman ini ialah tubuh segar bugar dan seluruh keinginan tercapai.”

Ah...sahabat umur itu laksana Bazar- tempat jual beli seabreg barang. Hanya saja kadang diri menjadi orang yang tidak sadar dalam berjual beli ini...Barang yang dibeli hanyalah investasi sesaat di dunia. Negeri akhirat...betapa sering dilupakan, padahal manusia datang ke bumi hanyalah menjadi pengembara, sesaat saja, sebab kampung akhirat itu pasti terkunjungi suatu waktu dimana matahari tepat di atas ubun-ubun, hari di mana Allah menjadi hakim adil mendatangkan saksi berupa kitab amal yang tak cacat sedikit pun, membuat anggota tubuh berbicara, bahkan bumi yang kini dipijak pun tak akan mengatakan dusta walau sedikit pun. Ah...Negeri Akhirat yang kurindukan, namun juga kupertanyakan dimanakah aku akan ditempatkan. Di tempat yang paling ku inginkan ataukan di tempat yang paling kutakutkan? Dan semua itu karena sesuatu bernama dosa.

Seorang generasi tabi’in, Muhammad bin Sirin menjelaskan tentang orang yang sadar kehidupan akhirat, ”Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya. Dia memberinya pengingat dari hatinya sendiri, yang bertugas menyuruhnya berbuat baik dan melarangnya mengerjakan keburukan”. Jika seseorang menyimpang dan lalai, tidak berupaya mengenal tujuan penciptaannya, ia diingatkan oleh pengingat hatinya itu. Lalu ia segera kembali ke jalan yang benar dan ia adalah orang yang sadar (tidak lalai).

Bilal bin Sa’ad, seorang ahli ibadah membuat standar akhirat yang patut untuk direnungi dan mungkin dijadikan motto hidup. Ia berkata, ”Anda jangan melihat kecilnya dosa, namun lihatlah kepada siapa anda bermaksiat.” Ya Allah...jelas sekali dosa itu kulakukan pada-Mu. Namun dengan tenangnya Kau mengingatkan ’kebaikan atau keburukan hamba-Ku kembali pada hamba-Ku, Aku tidak diuntungkan maupun dirugikan sedikit pun.’ Ya...orang yang lalai adalah orang yang merugikan dirinya sendiri...

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Qur'an pun yang baru (diturunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai..."(QS. Al Anbiyaa’ 21: 1-3)

Jika seorang ikhwan mengejar surga untuk mendapat bidadari, maka akhwat mengejar surga untuk menjadi bidadari. Dan sungguh menjadi bidadari itu sangatlah tidak mudah. Terkadang saat iman di atas segalanya maka sayap-sayap baru muncul dengan indah. Namun...saat futur itu datang, di mana dunia mampu memanipulasi jiwa, sayap-sayap itu terlukai bahkan mungkin terpatahkan.

Terkadang saat di kerumunan akhwat dapat kulihat seolah-olah bidadari itu telah menjelma di dunia. Bidadari ini mampu menguatkan kembali saudaranya yang terluka. Namun terkadang kulihat juga yang mampu mematahkan sayap-sayap saudaranya. Ya...setan tak selalu berupa makhluk gaib. Terkadang orang terdekat kita ternyata yang membuat kita melakukan dosa. Setiap orang berlomba untuk mendapatkan point amal setinggi-tingginya demi yang Maha Tercinta.Tapi....apakah layak dosa diperebutkan. Menemani orang berbuat dosa...saudara macam apakah itu?? Yaa...ternyata untuk mencapai amalan setingginya kita membutuhkan saudara sejati...pengingat saat kita melakukan kesalahan. Saudara sejati ini dipertemukan saat Bazar di dunia. Terkadang kita perlu usaha keras untuk menemukannya, karena mereka musafir yang selalu melangkah ke depan. Mereka bukanlah manusia sempurna, namun orang-orang tak sempurna ini berkumpul untuk saling mengingatkan...

Mungkin orang-orang berkepribadian magnet ini belum kau temukan, tapi kau masih punya sisa waktu untuk menemukannya. Atau mungkin kau telah menemukannya, namun percayalah setelah kau menemukan satu, kau ingin yang kedua, dan seterusnya... Saudara sejati itu harus terus dicari dan tetap dipertahankan. Merekalah yang mengatakan dosa adalah dosa dan kebaikan adalah amal. Ini hanyalah satu tips untuk menghambat pintu-pintu maksiat. Masih banyak tips lainnya namun biarlah proses hidup mengajari kita lebih banyak lagi...Tidak satu manusia pun terbebas dari dosa, namun tidak juga ingin termasuk manusia yang menumpuk dosa kecilnya menjadi lautan dosa. Maka ingatkanlah aku selalu...yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar, bukan aku yang merumuskan, bukan pula kamu yang merumuskan, tapi Allah lah yang telah memberi rumus yang absolut.

Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.

Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman", mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok".Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. (QS. Al Baqarah 2: 1-17)

Selasa, 25 Mei 2010

PURWOCENG, THE VIAGRA OF JAVA


Klasifikasi tanaman Purwoceng adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Bangsa : Umbelliflorae

Suku : Umbelliferae

Marga : Pimpinella

Jenis : Pimpinella pruatjan Molkenb.

Nama Indonesia : Purwoceng, Purwaceng (Jawa).

Purwoceng merupakan tanaman herba parennial. Tanaman Purwoceng berakar tunggang. Akar bagian pangkal semakin lama akan bertambah ukurannya seolah membentuk umbi seperti gingseng, tetapi tidak sebesar umbi gingseng. Habitus tanaman membentuk rosset dan tangkai daun berada di atas permukaan tanah. Tajuk tanaman menutupi permukan tanah hampir membentuk bulatan dengan diameter tajuk berkisar 36-45 cm setiap tanaman. Tangkai daun tumbuh rapat menutupi batang tanaman. Batang tanaman tidak terlihat seolah tidak ada. Jumlah tangkai berkisar 22-27 buah / tanaman. Pangkal tangkai biasanya berwarna kecoklatan, sebagian kecil saja yang berwarna merah kehijauan. Panjang tangkai daun berkisar 18-26 cm. Daun tanaman majemuk menyirip ganjil. Anak daun tumbuh di di sepanjang tangkai daun dengan kedudukan saling berhadapan. Bentuk anak daun membulat dengan pinggir bergerigi. Warna permukaan daun hijau dan permukaan bawah hijau keputihan.

Bunganya majemuk membentuk payung. Setiap tanaman mempunyai sekitar 4-9 tangkai bunga primer. Setiap tangkai primer rata-rata memiliki 4-5 tangkai sekunder. Sementara setiap tangkai sekunder mempunyai rata-rata 4-10 tangkai tersierdan tangkai tersier mempunyai 8-10 tandan bunga. Setiap tandan bunga yang berbentuk payung tersebut terdapat 8-15 bunga yang akan membentuk biji. Dengan demikian satu tanaman menghasilkan 1.500-2.500 biji. Biji yang telah masak berwarna hitam, ukurannya kecil. Termasuk tanaman berumah satu dan dapat menyerbuk silang.

Purwoceng merupakan tanaman afrodisiak asli Indonesia. Purwoceng hidup sebagai tanaman liar yang tumbuh di bawah tegakan hutan। Tanaman ini banyak diburu orang termasuk industri jamu dan obat sebagai bahan baku untuk meningkatkan vitalitas pria। Harga herbanya sangat mahal karena keberadaannya dahulunya termasuk langka. Namun, sekarang tanaman ini telah dibudidayakan dan sangat mudah di dapatkan. Tanaman Purwoceng telah banyak dibudidayakan di Dieng, Desa Sikunang, Kabupaten Wonosobo. Namun, kini telah mampu tumbuh di luar habitat aslinya yang mempunyai kemiripan dengan habitat asli Purwoceng di Dieng. Di daerah Sunda, Purwoceng disebut juga antanan gunung. Sementara di daerah lain dikenal dengan sebutan suripandak abang, gebangan depok, Purwoceng, dan rumput dempo ( Jawa ). Purwoceng merupakan tanaman endemik asli Indonesia. Di daerah Jawa Tengah terdapat di pegunungan Dieng, sedangkan di Jawa Barat ditemukan banyak tumbuh di Gunung Galunggung dan Gunung Gede Pangrango.

Purwoceng merupakan tanaman daerah dataran tinggi, yaitu tumbuh pada ketingian 1।800 – 3.300 diatas permukaan air laut (dpl). Tanaman tumbuh subur pada ketinggian sekitar 2.000 m dpl dengan kondisi tanah yang subur dan gembur, suhu udara berkisar 60 – 70 %, serta curah hujan diatas 4.000 mm/tahun. Untuk pertumbuhannya, selain memerlukan tanah yang gembur dan subur tetapi juga diperlukan tanah yang kaya organik dengan pH tanah 5,7 – 6,0. tanaman tidak tumbuh baik pada tanah dengan struktur liat. Untuk tanah yang kurang subur memerlukan pemupukan, terutama pupuk oraganik.

Populasi tanaman Purwoceng di Indonesia sangat sedikit sekali. Karena tanaman ini tergolong kedalam tanaman yang dikategorikan hampir punah (endangered). Semula Purwoceng diperkirakan hanya dapat tumbuh di daerah habitat aslinya di Pegunugan dataran tinggi Dieng. Berdasarkan hasil survei pada awal tahun 2003, Purwoceng Hanya ditemukan di Dieng, Desa Sikunang, Kabupaten wonosobo (Rahardjo 2005). Di sana hanya beberapa petani yang membudidayakan dan peduli terhadap tanaman ini. Mereka menanamnya ditepi-tepi rumah dengan skala yan sangat sempit. Hal tersebut disebabkan keterbatasan bibit dan harga herbal sangat mahal. Namun kini Purwoceng kini sudah dapat dikembangbiakkan di daerah lain yang memiliki tempat yang mirip habitat aslinya, dan sudah dikembangkan oleh petani-petani di luar habitat aslinya.

Pengaruh Penerapan Invertebrate Documentary Film (IDF) pada Materi Porifera, Cnidaria dan Platyhelminthes terhadap hasil belajar dan Aktivitas Siswa



ABSTRAK


Prajoko, Setiyo. 2009. Pengaruh Penerapan Invertebrate Documentary Film (IDF) pada Materi Porifera, Cnidaria dan Platyhelminthes terhadap hasil belajar dan Aktivitas Siswa di SMA N 1 Salaman. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang. Drs. Partaya, M.Si dan Drs. Ibnul Mubarok.

Hewan invertebrata terutama pada Filum Porifera, Cnidaria dan Platyhelminthes jarang dijumpai secara langsung karena memiliki habitat di dasar laut, kebanyakan hidup bebas atau sebagai parasit. Hal ini menyebabkan kesulitan belajar siswa SMA N 1 Salaman pada materi tersebut yang secara geografis terletak di pegunungan. Kesulitan belajar ini terjadi karena siswa merasa asing dengan contoh hewan invertebrata tersebut. Film dokumenter memiliki kelebihan dalam hal penyampaian informasi secara audio-visual sehingga menarik untuk dijadikan media pembelajaran untuk menampilkan contoh hewan invertebrata. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang penerapan Invertebrate Documentary Film pada materi Porifera, Cnidaria dan Platyhelminthes untuk mengetahui hasil belajar dan aktivitas siswa di SMA N 1 Salaman.

Penelitian eksperimen ini dirancang dengan metode The Static Group Comparison Randomized Posttest only Design. Dalam rancangan ini sekelompok subjek yang diambil dari populasi tertentu dikelompokkan secara rambang menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA N 1 Salaman semester genap. Penentuan sampel dilakukan dengan sistem Clusster random sampling yang sebelumnya telah dilakukan uji homogenitas. Sampel dari penelitian ini adalah siswa kelas XA, XD dan XE. Kelompok eksperimen terdiri atas dua kelas yaitu kelas XD dan XE yang dikenai variabel perlakuan yang berbeda dengan kelompok kontrol (kelas XA). Kegiatan pembelajaran kedua kelompok ini dilakukan posttest dan penugasan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan aktivitas dan hasil belajar antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Pada kelas eksperimen I dan eksperimen II aktivitas siswa menunjukkan kriteria sangat tinggi dan kriteria tinggi berturut-turut 8% dan 92% dan 72% dan 28%. Sedangkan pada kelas kontrol menunjukkan kriteria keaktifan tinggi, cukup, rendah dan sangat rendah berturut-turut 58%, 23%, 18% dan 3%. Hasil belajar siswa juga menunjukkan perbedaan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Ketuntasan belajar pada kelas eksperimen I dan eksperimen II berturut-turut sebesar 95% dan 68% sedangkan pada kelas kontrol hanya sebesar 20%. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa kelas yang menggunakan IDF meningkatkan aktivitas belajar siswa sehingga berpengaruh pada hasil belajar yang meningkat pula. Pada kelas eksperimen II tingkat ketuntasan belajar masih kurang. Hal ini disebabkan karena menurut ahli aspek visual, animasi, narasi dan audio masih kurang.
Kesimpulan hasil penelitian ini adalah penggunaan Invertebrate Documentary Film (IDF) berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa pada materi Porifera, Cnidaria dan Platyheminthes di SMA N 1 Salaman.

Kata kunci : Invertebrate Documentary Film (IDF), aktivitas, hasil belajar siswa।