Minggu, 27 Februari 2011

WNI Pertama Menikahi Gadis Gaza

Alhamdulillah, berkat pertolongan ALLAH Subhanahu wa Ta’ala, Abdillah Onim, relawan MER-C Indonesia yang sedang menjalankan tugasnya di Gaza untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia, mempersunting seorang Muslimah warga Jabaliya bernama Rajaa Al-Hirthani.

Proses pernikahan Abdillah, terbilang unik dikarenakan untuk pertama kalinya seorang WNI menikah dengan warga Gaza, di Jalur Gaza. Selain itu, setelah beberapa kali meminang beberapa muslimat di Jalur Gaza, mulai dari Khan Younis, Shija’iya, Gaza, akhirnya Abdillah menemui pelabuhan hatinya di Jabaliya, sebuah kota kecil yang religius, berpenduduk sangat padat dengan jumlah lebih dari 70.000 jiwa.

Diperkenalkan oleh beberapa sahabat bernama, Abdillah bertemu dengan calon istrinya dengan proses yang cukup islami, dengan cukup melihatnya satu kali, kemudian dilanjutkan dengan saling istikharah, untuk menentukan sikap apakah mereka saling menyetujui untuk membina rumah tangga.

Setelah istikharah, akhirnya mereka memutuskan untuk saling menerima. Proses pernikahan ini terbilang sangat unik juga, bertemu satu kali, tiga hari kemudian saling menerima, hari ke empat melamar, hari kelima penyerahan mahar, dan hari ke enam ijab qabul.

Saat melamar sang pujaan hatinya, selain ditemani oleh seluruh Tim Relawan Pembangunan RS Indonesia yang saat ini seluruhnya berjumlah 7 orang, Abdillah Onim juga ditemani oleh Ketua IHH Cabang Gaza, Muhammad Kaya. Berbeda dengan proses lamaran di Indonesia, proses melamar di Gaza terbilang sangat sederhana, hanya dihadiri oleh beberapa orang, kemudian menyepakati beberapa hal, seperti jumlah mahar, tanggal penyerahan mahar dan tanggal ijab qabul kemudian ditutup dengan doa.

Mengambil tempat di belakang rumah calon mempelai wanita dengan dihadiri oleh beberapa pejabat dari Pemerintah Gaza, Rabu (16/02), prosesi acara penyerahan mahar pun terbilang sangat sederhana dan hanya berlangsung kurang dari 20 menit. Mewakili keluarga Abdillah Onim, Shaikh Yakub Ismail Sulaiman, menyampaikan rasa terima kasih dan syukur yang mendalam kepada ALLAH Subhanahu wa Ta’ala karena ini adalah pertama kalinya seorang WNI menikah dengan warga Gaza, dan pihak keluarga calon mempelai wanita menerima dengan tulus dan ikhlas pinangan Abdillah. Kemudian mahar sejumlah 3.000 USD pun diserahterimakan kepada orang tua laki-laki si mempelai wanita. Tampak hadir dalam acara tersebut, Walikota Bayt Lahiya, Dirjen Kementrian Transportasi, Perwakilan dari UIG (Universitas Islam Gaza), dan beberapa pejabat lainnya. Acara ditutup dengan doa, dilanjutkan makan manisan ala Gaza.


Keesokan harinya, Kamis 17 Februari 2011 tepat pukul 10.10 WG, bertempat di Mahkamah Pernikahan kota Jabaliya, Abdillah Onim mengucapkan Ijab Qabulnya. Bertindak sebagai wali dalam pernikahan tersebut adalah ayah mempelai wanita, dengan 2 orang saksi yaitu Shaikh Ya’kub Ismail Sulaiman dan Ibrahim Al-Hirthani. Abdillah tak kuasa menahan harunya, dengan suara nyaris tak terdengar deraian air mata membahasi pipinya tatkala mengucapkan ijab qabul. Resmilah Abdillah menyandang predikat sebagai seorang suami. Semua rekan-rekan relawan Indonesia memeluk Abdilah Onim, rasa bahagia dan haru menyelimuti semua relawan Indonesia. Subhanallah, ALLAH benar-benar menyayangi hamba-Nya.

Proses, pernikahan Abdillah juga diliput oleh berbagai media di Gaza, seperti Felesteen al ann dan Koran Risalah Palestina.

Sebagai seorang relawan yang bergabung di MER-C sejak tahun 1999, kehidupan Abdillah Onim memang sangat sederhana. Ia berasal dari sebuah daerah di wilayah Timur Indonesia yaitu Galela, kabupaten Halmahera Utara, provinsi Maluku Utara. Abdillah berangkat ke Gaza tujuh bulan yang lalu dengan meninggalkan ibu, keluarga, dan sanak familinya, begitu juga dengan pekerjaan yang menjadi penghidupannya sehari-hari. Tidak terbayang sedikitpun bahwa dia akan memperoleh istri warga Gaza.

Awalnya terasa berat tatkala pihak keluarga calon istri, meminta mahar sejumlah 3.000 USD. Tidak terbayang darimana uang sebanyak itu bisa dia siapkan. Sebagai seorang relawan yang bekerja tulus ikhlas, Abdillah memang sama sekali tidak mengharapkan imbalan atas apa yang dikerjakannya. Namun rekan-rekan sesama relawan Indonesia senantiasa men-support-nya, agar dia serahkan semuanya kepada ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. Lima jam sebelum penyerahan mahar, uang yang dimiliki oleh Abdillah jauh dari mencukupi sejumlah tersebut.

Namun, ALLAH yang Maha Kaya, ALLAH lah yang mencukupkan seorang hamba tatkala dia akan menikah sebagaimana firman ALLAH Subhanahu wa ta’ala "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (An Nuur: 32)

"Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya". (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)


Maha Benar ALLAH dengan segala Firman-Nya, tepat beberapa jam sebelum mahar diserahkan, ALLAH Subhanahu wa Ta’ala memberikan rizki-Nya kepada sang hamba lewat sahabat-sahabat yang dengan tulus dan ikhlas memberikan bantuannya. Abdillah sangat terharu dengan pertolongan dari ALLAH yang datang seketika dan tak henti-hentinya mengucap syukur kepada ALLAH atas limpahan kasih sayang yang diberikan-Nya. Tak lupa pula ucapan terima kasih atas segala bantuan yang tak ternilai harganya. Semoga ALLAH Subhanahu wa Ta’ala membalas segala kebajikan para sahabat, teman, saudara semuanya dengan balasan yang lebih baik lagi. (Nur Ikhwan Abadi – Relawan Pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza)

sumber: http://www.mer-c.org/misi-merc/misi-gaza-palestina/917--abdillah-onim-wni-pertama-menikahi-muslimah-gaza.html

Kamis, 24 Februari 2011

"Api Terjun" dari Yosemite National Park


"Api Terjun" dari Yosemite National Park

Josh Anon

Fenomena unik "api terjun" bisa dilihat di Horsetail Falls di Yosemite National Park, California, hanya beberapa hari saja di bulan Februari setiap tahun.

Api terjun itu terdapat di gugusan pegunungan Sierra Nevada, sebelah barat Danau Tahoe, memiliki ketinggian 2.000 kaki.

"Api terjun" pada dasarnya merupakan air terjun. Hanya saja, air terjun tersebut terpapar oleh sinar matahari senja sehingga berkilauan dengan warna kuning keemasan bagai api yang memukau.

Fenomena api terjun paling tepat disaksikan pukul 17.30 waktu setempat. Saat itu, cahaya matahari senja tepat menyinari batuan di sekitar air terjun.

Josh Anon, warga San Fransisco, berhasil mengabadikan fenomena "api terjun" itu. "Jika jumlah air cukup dan langit cukup cerah serta matahari ada pada sudut yang tepat untuk menyinari air, maka air terjun bersinar," katanya.

Yosemite National Park yang merentang sepanjang 3.000 kilometer menarik 3,5 juta wisatawan tiap tahunnya. Api terjun adalah salah satu pesonanya. Api terjun bisa dicapai dengan mendaki ke arah utara Twin Bridge lewat rute 50 AS. (Yunanto Wiji Utomo)
Sumber: Kompas.com

Ponsel Pengaruhi Metabolisme Otak

Ponsel Pengaruhi Metabolisme Otak

Franque de Win/stock.xchng

Menelepon dengan menempelkan ponsel ke telinga memicu perubahan aktivitas di otak di bagian yang dekat dengan telinga.
Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam American Medical Association pada 22 Februari, penggunaan ponsel dengan menempelkannya pada telinga selama 50 menit memicu aktivitas otak di sekitar telinga. "Ini merupakan laporan ilmiah pertama yang menunjukkan adanya perubahan pada otak," kata Henry Lai dari University of Washington di Seattle yang juga turut serta dalam penelitian. Ia juga menegaskan kalau penggunaan ponsel dengan menekannya ke telinga merupakan tindakan yang tidak aman.
Saat penelitian, Lai dan rekan-rekannya mengukur aktivitas otak 47 orang dengan 2 ponsel di setiap telinga. Ponsel di telinga kiri dimatikan, sementara ponsel di kanan sedang aktif menerima panggilan. Ponsel dibisukan sehingga para partisipan tidak mengetahui ponsel mana yang aktif. Hal itu dilakukan agar bagian otak yang berurusan dengan pendengaran tidak terangsang.
Beberapa menit setelah panggilan, hasil pemindaian menunjukkan kalau bagian otak yang dekat dengan telinga kanan memiliki metabolisme glukosa yang lebih tinggi--sel otak butuh glukosa untuk aktif. Sementara itu, metabolisme di bagian otak yang dekat dengan telinga kiri tidak berubah.
Metabolisme glukosa meningkat sebanyak 7 persen, sebuah peningkatan yang hampir sama ketika suatu bagian otak aktif. Metabolisme glukosa pada pusat bicara di otak meningkat 10 persen ketika seorang berbicara," kata Nora Volkow dari National Institute on Drug Abuse di Bethesda yang turut serta dalam penelitian.
Temuan itu menunjukkan kalau radiasi ponsel memicu aktivitas otak. "Otak manusia sensitif terhadap radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh ponsel," kata Volkow.
Volkow juga menyebutkan kemungkinan kalau bagian otak yang terpengaruh tergantung desain posnel dan cara orang memegang ponsel. Ponsel yang digunakan penelitian memiliki antena nyaris di bawah, sehingga bagian otak yang dipengaruhi adalah bagian otak yang ada di belakang mata.
Level radiasi juga bergantung pada jarak menara pemancar dengan ponsel dan jumlah orang yang menggunakan ponsel di area yang sama. Variabel-variabel inilah yang mempersulit ilmuwan mendapatkan bukti kuat untuk menunjukkan kalau penggunaan ponsel memiliki risiko kesehatan. (Sumber: Discovery News)